fani webpage











{Oktober 22, 2008}  
03
Dec

D’Cinnamons – Good Morning, Album Yang Hebat !

Yah, ini kayanya debut saya me-review sebuah album. Tapi mungkin saya ga akan membahas semua lagunya. Beberapa lagu saja yang saya suka. Tapi secara overall, saya sangat menyukai album mereka ini.

D’Cinnamons, band akustik yang terbentuk September 2004 ini beranggotakan Dodo / Diana Widoera (Lead Vokal dan akustik gitar), Bona / Ismail Bonaventura (akustik gitar) dan Laut / Louise Laura Lalitanaya (backing vokal dan bass gitar). Mereka memainkan musik akustik yang sangat easy listening. Kalo ingin informasi yang lebih lengkap tentang mereka, cobalah log in ke situs mereka di http://www.dcinnamonsband.com/.

DCinnamonsDi Tahun 2007 ini mereka mengeluarkan album perdana yang diberi judul Good Morning. Sebelumnya mungkin anda juga sering melihat video klip mereka di TV membawakan lagu berjudul Selamanya Cinta, yang merupakan salah satu OST film Cintapuccino. Lagu ini dulu dipopulerkan oleh Yana Yulio. Mudah dicerna, itulah kesan saya sewaktu mendengar musik mereka.

Meskipun ada beberapa liriknya yang memakai bahasa Inggris, namun tidak terlalu sulit untuk memahami makna lagu-lagu mereka. Cobalah simak Loving You. Lagu ini bercerita tentang cinta sejati seorang wanita kepada seorang laki-laki (sahabatnya, yang sering curhat pada sang wanita), yang ternyata tidak (atau tidak mau) mencintai si wanita tersebut. Lalu ada juga lagu berlirik Inggris, So You Would Let Me Be, yang mungkin (mungkin loooh) pengalaman pribadi salah seorang personilnya. Melepaskan cintanya pada seseorang yang sangat dicintai demi mencapai impian dan harapan bersama “saudara-saudaranya” (se-band barangkali).

Ku Yakin Cinta, sangat sangat easy listening (kayanya main di G ato C lah – beuh, sok tau gini). Menyenangkan sekali mendengar lagu ini.Tapi lagu mereka yang paling saya suka (just like me, he he he…) adalah Semua Yang Ada. Ga perlu saya jelaskan lagi maksudnya, tersirat dan tersurat dengan jelas. Penasaran ??? Makanya dengerin album ini he he he…

Slide the pics !



{Oktober 22, 2008}  

h1

Kerispatih - Mengenangmu

Desember , 2006

Kerispatih-Kenyataan Perasaan
Kerispatih Group band yang dibentuk pada tanggal 23 April 2003. dengan personel Samuel atau Sammy (Vokalis) yang juga dikenal sebagai salah satu finalis”gagal” Indonesian Idol, Badai ( Piano & Synthesizer), Andika ( Bass), Arief ( gitar), dan Anton ( Drum ).

Berbekal dengan tembang-tembang cinta, grup ini mampu meroketkan namanya ke pentas tertinggi musik Indonesia melalui single hits pertama berjudul “Kejujuran Hati”.dan Lagu ini seakan mampu memberikan nuansa baru di tengah lautan grup band anak muda yang memang sedang grandrung dengan tema-tema cinta.

Kini kerispatih kembali meluncurkan Album kedua mereka yang bernapaskan romantisme yang bertajuk “Kenyataan Perasaan” . Sammy yang bernama lengkap Hendra Samuel Simorangkir Bersama denngan Badai (pianis dan synthesizer), Andika (basis), Arief (gitaris listrik akustik), dan Andika (drumer) yang berasal dari satu kampus, Institut Musisi Indonesia (IMI) Jakarta, mengatakan album kedua ini berisi dengan format musik yang lebih dewasa.dengan Genre pop groovy yang tetap ditekuni dengan irama yang lebih tinggi.

Didalam album kedua ini Sammy mengisi lirik lagu pengalaman pribadi maupun pengalaman rekannya, salah satunya lagu mengenangmu yang merupakan lagu yang tercipta terinspirasi dari sebuah kejadian nyata yang sungguh sangat tragis yang dialami oleh rekan dari Kerispatih yang sangat menyentuh perasaan.

berikut ini hits single Kerispatih “Mengenangmu”

Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri

Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar
Kan kutunggu dirimu …

Reff:
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi



{Oktober 22, 2008}  

Sabtu ini Juliete Manggung Di Pontianak

Diposkan oleh Hartono di 07:55

By. Hartono
Borneo Tribune, Pontianak

Setelah meluncurkan solo albumnya yang bertajuk “Lagi Terluka” kini Juliete menggelar tour pertamanya (khusus album) bersama Kentucky Fried Chicken (KFC) dan Music Faktory Indonesia (MMI) di GOR Pangsuma Pontianak, Sabtu (29/3).

Dalam promo tour yang diberi nama “Teman Apa Teman” ini Juliete akan membawakan lagu-lagu andalan mereka dari album “Lagi Terluka” di antaranya: Bukan Aku Takut, Teman Apa Teman, Masih Seperti Dulu dan beberapa lagu lainnya yang pernah jadi Hits di radio-radio tanah air.

Sebelum tampil di GOR Pangsuma, Juliete akan mengadakan talk show di beberapa media elektronik dan media cetak setempat. Antara lain Khatulistiwa TV, Tri Jaya FM, Pro 2, Manusa Radio, Primadona serta beberapa harian umum di Pontianak. Selain itu Juliete juga akan mengadakan jumpa fans di beberapa sekolah yang ada di Pontianak.

Juliete sendiri berhasil menjadi band KFC Music Hits List setelah salah satu lagunya “Masih Seperti Dulu” masuk masuk dalam album kompilasi KFC Music List Vol. 1, yang akhirnya membawa Juliete ke puncak tangga top Chart radio-radio tanah air.

Formasi Juliete yang digawangi oleh Ale (gitar), Joe (vokal), Andy (kibor gitar) dan Jery (bass) dan Raden (Drum) kini lebih berwarna, karena masing-masing personelnya memiliki basic musik yang berbeda. Warna dan konsep music Juliete pun kini lebig like rock yang minim distorsi dipadu dengan lirik-lirik bertemankan cinta.

“Teman Apa Teman” dijadikan tema dalam tour perdana Juliete bersama KFC dan MFI ini, karena selain merepsentasikan sebagai band yang penuh warna dan semangat, lagu ini juga memiliki beat dan aransemen yang ceria.

Sedangkan lagu “Bukannya Akunya Takut” yang berkali-kali jadi hits juga dipastikan akan dinyanyikan koor oleh seluruh penonton di GOR Pangsuma Pontianak, karena selain memiliki lirik dan lagu yang berkarakter kuat, lagu ini juga memiliki soud yang lebih ringan (acoustical) dan lebih membumi.

Cinta memang tak pernah lepas dari penciptanya, begitu kata lagu “Itu Karena Kuasa Tuhan”. Lagu yang belakangan video klipnya mondar-mandir di TV swasta ini adalah salah satu lagu cinta yang liriknya lebih memuja keanggunan seotang wanita. Meskipun musiknya lebih banyak distorsi, pada bagian tengah hingga akhir lagu, tetapi lagi ini tetap memiliki key sound yang kuat dan gampang nyontol di telinga.



{Oktober 22, 2008}  

Album Kedua ST 12 - PUSPA

st12_puspa

 

 

ST 12, yang dimotori oleh Pepep (drum), Pepeng (gitar), dan Charly (vokal) merupakan grup band asal Bandung yang meroket pamornya lewat hit Aku Masih Sayang,  di album kedua ini mereka tidak hanya sekadar mempertahankan konsep bermusik pop bercorak Melayu yang terasa easy listening.

”Tetapi dari 12 lagu yang ada di album kedua, kita mencampurkan beberapa aliran musik, seperti disko, reggae dan akustik,” kata Pepep, drummer sekaligus pemrakarsa terbentuknya ST 12, saat berbincang dengan Republika di Jakarta, Senin (12/5).

Meski menyisipkan corak ‘asing’, Pepep menegaskan bukan berarti mereka meninggalkan identitas musikal ST 12 yang dikenal sebagai pengusung musik pop-Melayu. ”Kita hanya ingin mengambil segmentasi pendengar yang lebih luas,” kata musisi ini menerangkan seputar penyisipan musik disko dan reggae di album kedua ST 12.

”Harus kita sadari bahwa orang punya cara dan selera yang berbeda dalam menikmati musik. Ada yang butuh musik menghentak, mellow, atau minimalis ornamen yang mengedepankan harmonisasi. Semua itu yang kita suguhkan di album kedua ini,” kata Pepep menjelaskan kembali.

Sementara Charly van Houtten, vokalis ST 12, menambahkan bahwa warna musik disko dan reggae yang hadir d album kedua masih tetap mengedepankan identitas musikalisasi grup musik ini. ”Tetap ada unsur Melayunya,” kata pria yang memiliki cengkok vokal Melayu ini.

Charly mengungkapkan lagu yang dihadirkan dalam versi disko berjudul Cinta Jangan Dinanti-nanti. Selanjutnya tembang bertajuk Saat Kau Jauh dikemas secara reggae. Selain kedua lagu tadi, masih ada dua lagu lagi yang dihadirkan dalam konsep baru ST 12. Kedua lagu tersebut berjudul Batu Nisan dan Cinta Tidak Direstui. ”Keduanya kita hadirkan dalam konsep slow akustik. Artinya kita tidak hanya menghadirkan permainan akustik itu sebagai pembukanya saja, tetapi disajikan secara full akustik.”


Single andalan
Untuk album kedua  ST 12 justru menempatkan single berjudul Puspa sebagai lagu andalannya. Puspa ini merupakan kependekan dari Putuskan Saja Pacarmu. Tembang ini, kata Pepep, masih tetap ST 12 banget. ”Musikalisasinya masih tetap warna musik ST 12 asli dan masih terus dipertahankan. Saat orang mendengar lagu ini, maka mereka akan bisa mengenali bahwa ini adalah ST 12.”

Sebagai lagu andalan, Trinity Optima Production selaku label recording tempat ST 12 bernaung, secara khusus langsung membuatkan video klip untuk single Puspa. Dalam video klip ini dihadirkan aktris Luna Maya sebagai modelnya.

Charly menceritakan peran Luna dalam video klip Puspa ini sebagai perempuan yang sudah memiliki kekasih. ”Tetapi saya menyuruh dia agar memutuskan pacarnya, lalu saya meminta kepada dia untuk bilang I Love You kepada saya,” kata pria ini sambil tersipu malu saat menceritakan konsep dari video klip Puspa ini.

Sementara, Luna Maya, yang duduk di dekat ketiga personel ST 12, menjelaskan tentang perannya di video klip terbaru ST 12. ”Ini kan tuntutan profesionalisme kerja saja,” katanya singkat.

Untuk video klip Puspa ini, ST 12 dan Trinity memberikan kepercayaannya kepada sutradara Guntur. Clippers muda ini sebelumnya pernah menggarap video klip ST 12 yang berjudul Rasa yang Tertinggal. Sementara itu debut album ST 12 yang dilansir tiga tahun silam berjudul Aku Tak Sanggup Lagi menorehkan prestasi penjualan lebih dari 300 ribu keping.

Berkat penjualan tersebut, pihak Trinity memberikan penghargaan double platinum kepada grup yang menyingkat ST 12 dari nama lokasi di kawasan Bandung, yakni Stasiun Timur Nomor 12



{Oktober 22, 2008}  
WALI Band: Catat, Bukan Religius Tapi Band POP Cetak halaman ini
Selasa, 25 Maret 2008
MENEMUKAN musik yang pas, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Selalu ada proses sampai akhirnya racikan musik itu terasa pas, minimal oleh musisinya….

Racikan nyaman itulah yang dianggap pas dan kemudian dikemas dalam satau album oleh band yang menamakan dirinya WALI.

Jangan usil dengan pilihan namanya yan terkesan seperti band religius itu. Mereka, Faank [vokal], Apoy [gitar], Tomi [drum], Ovie [kibord] dan NuNu [bass] memilih memijak di ranah pop yang mereka rasa aman dan nyaman untuk berkarya.

Aman dan nyaman? Entahlah, itu sebuah ungkapan yang orang lain bisa perdebatkan. Tapi untuk mereka, WALI yang terbentuk 31 Oktober 1999, adalah elemen untuk menghembuskan musikalitas yang sudah mereka buat.

Dan karya mereka kemudian tertuang dalam album pertama yang mereka beri titel ‘ORANG BILANG” yang dalam istilah mereka, mengusung ‘local pop creative’ [terserah deh, genre apa yang mereka sebut].  Untuk single pertama, band ini memilih ‘Dik’ sebagai jagoan.

Sejatinya, WALI memang masih menyodorkan ritme pop yang sama. Jangan berharap ada gebrakan dan musikalitas tinggi yang mencerahkan. Simak saja lagu lain seperti ‘Emang Dasar’ atau Egokah Aku’ yang ada di kantong album ini. Nyaris sama. Tapi toh mereka tetap boleh dan punya ruang untuk berkarya. Diterima? Itu urusan yag dengar deh…



{Oktober 22, 2008}  

Element Sempat Terancam Bubar

Jum’at, 6 Juni 2008 – 17:50 wib

JAKARTA – Grup band Element termasuk salah satu band Tanah Air yang terbilang awet. Selama sembilan tahun, Element mampu bertahan. Namun, siapa sangka belum lama ini Element berniat membubarkan diri.

“Kita memang merasa ada kejenuhan yang sangat fatal yang kita alami. Ritmenya yang terus berulang menimbulkan kebosanan yang luar biasa. Kita berpikir Element bukan menjadi prioritas. Kita berkumpul dan latihan hanya untuk kewajiban saja, bukan lagi seperti dulu dengan semangat,” jelas Adhit, gitaris Element saat ditemui pada perayaan ulang tahun Element di Taman Menteng, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (6/6/2008).

Adit menambahkan, saat-saat sulit itu akhirnya bisa dilewati Element. Semangat dari Parlemen (sebutan untuk penggemar Element) menjadi semangat bagi band penelur hits Kupersembahkan Nirwana itu.

“Teman-teman Parlemen menguatkan kita dan bilang kalau Element itu sumber inspirasi mereka. Karena itu, kita merasa kuat lagi,” tambah Adhit penuh semangat.

Usia sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk hitungan sebuah grup band. Begitu pula dalam hal berkarya, Element harus mampu menampilkan karya terbaik di usianya sekarang.

“Di usia sembilan tahun ini, kita berusaha membuat sesuatu yang baru. Kita bangkit dan berusaha dari nol supaya kita bisa seperti dulu,” tegasnya.(lsi)



{Oktober 22, 2008}  

Jikustik, Band Pembela Kaum Patah Hati

JAKARTA – Grup band pop asal Yogyakarta, Jikustik (Pongki, Adhit, Carlo, Dadi, Icha) hadir lagi dengan album terbaru bertajuk Pagi. Secara pasti, kumpulan lagu keempat dari Jikustik ini menjadi bagian trilogi kedua, setelah trilogi awal yakni Seribu Tahun, Perjalanan Panjang dan Sepanjang Musim.

Konsep pemikiran semacam itu bukan tanpa maksud. “Kami inginkan siklus yang tidak pernah putus, seperti pesan kesatuan,” kata vokalis Stefanus Pongki Tri Barata, saat ngobrol di kantor Warner Music Indonesia, pekan lalu.
Pongki sekaligus menyamakan makna ini bagaikan kedoyanannya menonton film-film sekuel layar lebar, semacam Lord of The Rings dan Star Wars. “Yang membuat publik jadi terikat sebagai pembeli sekaligus penikmat,” jelasnya.
Lanjutan trilogi Pagi tetap memakai gaya Jikustik dengan musiknya yang biasa sederhana. Apalagi, ini dikaitkan dengan situasi pagi hari yang sesuai menu sarapan pagi.
“Enteng, namun mengingatkan aktivitas di siang hari. Dengan begitu, ada jembatan berikutnya ke (album) Siang pada tahun depan sebagai lanjutan trilogi kedua,” ungkap Icha, dan dilanjutkan Pongki.
Mereka mengatakan ada satu lagu dalam muatan Pagi yang menjadi jembatan ke album Siang. Judulnya adalah “Sudah Terjawab”. Di dalam lagu tersebut, ada bunyian printer, dan irama dansa (house music) yang belum pernah dilakukan Jikustik di masa lalu. “Di situ juga dimasukkan suara vokal Dadi (gitaris) dan Pongki yang dicampurkan dengan iringan gitar akustik, drum bolong dan piano,” cerita Pongki.
Diakui, konsekuensinya, semua ini terbilang baru rencana besar. Namun, lanjut Pongki, musiknya nanti disesuaikan dengan karakter sound yang mungkin sudah tidak tren lagi. “Soalnya bagi Jikustik tetep harus ada aturan dasar,” tegasnya.
“Supaya tidak ada kesan pengulangan, album Pagi dipenuhi corak akustik hingga 80 persen, padahal di album-album terdahulu maksimal hanya 50 persen saja,” kibordis Aditya Bhagaskara (Adhit) ikut menjelaskan.
Nanti, demikian Pongki, di album Malam akan bisa terjawab semua. Suatu pikiran panjang bertahun-tahun yang berupa proyek rancangan Jikustik sendiri. Segalanya nanti akan mengartikan Jikustik yang tidak pernah mau berhenti di dalam satu album.

Paling Produktif
Meski terbilang Pongki dan bassis Icha yang paling produktif membikin lagu bagi Jikustik, akan tetapi tetap ada pembagian kerja tiap personel Jikustik. “Karena yang lain tentu saja ikut membikin komposisi musiknya. Agar kerja bisa cepat selesai, seperti yang terjadi pada album Pagi, atau hanya memakan waktu dua bulan,” ungkap Pongki.
Bagi Pongki, kerja membikin lagu tetap terbilang sebagai anugerah Tuhan. Kalau kini ada 10 lagu serta empat lagu yang berbeda untuk muatan kaset dan CD, bukan berarti lagu yang belum terpilih selalu bermakna buruk. Pongki mecontohkan lagu “Setia” yang awet, tenar, banyak disukai publik, dan dihargai orang. Padahal, awalnya pernah disimpan di dalam laci saja.
“Kami tidak pernah mau munafik, kalau musik Jikustik tidak dimengerti orang, untuk apa (kami produksi)? Pada album keempat ini, kami telah mulai mengerti wajah industri musik. Melihat keberhasilan band-band baru, belum tentu mereka bisa di atas terus, karena suatu saat bisa anjlok (penjualannya),” dikomentari Adhit.
Pasalnya, band bisa hadir ke muka karena mereka masih punya semangat. “Profit dan ketenaran hanya mengiringi,” Pongki menambahkan.
Di sisi lain, band harus menjadi dirinya sendiri, sambil menyesuaikan diri dengan selera setiap orang yang saling berbeda. Selain itu, Jikustik mengaku terus terang sebagai pembela kaum patah hati. “Lagu-lagu kami yang terjual pastilah mellow. Bahkan lagu kami yang tidak populer tetapi dinilai positioning (belakangan hari) bisa dirilis juga,” ungkap Pongki, bangga.
“Lirik lagu bersedih-sedih sampai segitunya, cuma Jikustik yang melakukannya. Kemasan cintanya berbeda, dengan tanpa menyebut kata cinta meski bait liriknya dipenuhi dengan obralan cinta,” Icha melengkapkan.
“Kalau orang gak suka pada kami, itu wajar! Kami pasrah menerima itu, seperti saat kami dikritik tanpa bergaya panggung. Terserahlah! Tetapi kenyataannya setiap penampilan Jikustik, tetap saja banyak penonton yang ikut bernyanyi dengan lantang,” demikian Icha dan Pongki berargumen.
“Main lagu slow malah susah lho. Semacam lagu “Setia” susah banget,” singgung Pongki.
Lebih lanjut menjelaskan segala sesuatu di balik Pagi, Pongki menganggap Jikustik membawa persepsi kebiasaan orang yang ketika bangun pagi selalu menyimpan harapan. “Siang sebagai klimaks, dan malam adalah saat beristirahat,” sambung Pongki.
Secara konsep, Jikustik tetap membawa pesan umum sesuai persepsi orang banyak. “Yang penting, tuangan tema dari Jikustik bukan berlandasan drama atau opera yang harus beralur dan berakting, akan tetapi musik hiburan yang kali ini bertrilogi sesuai siklus pagi, sampai siang dan malam,” demikian, akhir keterangan suami artis/presenter Sophie Navita itu.
Pagi yang menjadi awalan baru dari trilogi kedua Jikustik, menyajikan menu singel pembuka bergaung fresh mellow bertajuk “Pulanglah Padanya”. Lumayan sedap sih sesuai tujuan Jikustik yang sekadar menghibur. Lagi pula apa salahnya bertujuan sederhana seperti Michael Learns To Rock?! (SH/john js)
 

 
 

 



dan lain-lain