|
JAKARTA – Grup band pop asal Yogyakarta, Jikustik (Pongki, Adhit, Carlo, Dadi, Icha) hadir lagi dengan album terbaru bertajuk Pagi. Secara pasti, kumpulan lagu keempat dari Jikustik ini menjadi bagian trilogi kedua, setelah trilogi awal yakni Seribu Tahun, Perjalanan Panjang dan Sepanjang Musim.
Konsep pemikiran semacam itu bukan tanpa maksud. “Kami inginkan siklus yang tidak pernah putus, seperti pesan kesatuan,” kata vokalis Stefanus Pongki Tri Barata, saat ngobrol di kantor Warner Music Indonesia, pekan lalu.
Pongki sekaligus menyamakan makna ini bagaikan kedoyanannya menonton film-film sekuel layar lebar, semacam Lord of The Rings dan Star Wars. “Yang membuat publik jadi terikat sebagai pembeli sekaligus penikmat,” jelasnya.
Lanjutan trilogi Pagi tetap memakai gaya Jikustik dengan musiknya yang biasa sederhana. Apalagi, ini dikaitkan dengan situasi pagi hari yang sesuai menu sarapan pagi.
“Enteng, namun mengingatkan aktivitas di siang hari. Dengan begitu, ada jembatan berikutnya ke (album) Siang pada tahun depan sebagai lanjutan trilogi kedua,” ungkap Icha, dan dilanjutkan Pongki.
Mereka mengatakan ada satu lagu dalam muatan Pagi yang menjadi jembatan ke album Siang. Judulnya adalah “Sudah Terjawab”. Di dalam lagu tersebut, ada bunyian printer, dan irama dansa (house music) yang belum pernah dilakukan Jikustik di masa lalu. “Di situ juga dimasukkan suara vokal Dadi (gitaris) dan Pongki yang dicampurkan dengan iringan gitar akustik, drum bolong dan piano,” cerita Pongki.
Diakui, konsekuensinya, semua ini terbilang baru rencana besar. Namun, lanjut Pongki, musiknya nanti disesuaikan dengan karakter sound yang mungkin sudah tidak tren lagi. “Soalnya bagi Jikustik tetep harus ada aturan dasar,” tegasnya.
“Supaya tidak ada kesan pengulangan, album Pagi dipenuhi corak akustik hingga 80 persen, padahal di album-album terdahulu maksimal hanya 50 persen saja,” kibordis Aditya Bhagaskara (Adhit) ikut menjelaskan.
Nanti, demikian Pongki, di album Malam akan bisa terjawab semua. Suatu pikiran panjang bertahun-tahun yang berupa proyek rancangan Jikustik sendiri. Segalanya nanti akan mengartikan Jikustik yang tidak pernah mau berhenti di dalam satu album.
Paling Produktif
Meski terbilang Pongki dan bassis Icha yang paling produktif membikin lagu bagi Jikustik, akan tetapi tetap ada pembagian kerja tiap personel Jikustik. “Karena yang lain tentu saja ikut membikin komposisi musiknya. Agar kerja bisa cepat selesai, seperti yang terjadi pada album Pagi, atau hanya memakan waktu dua bulan,” ungkap Pongki.
Bagi Pongki, kerja membikin lagu tetap terbilang sebagai anugerah Tuhan. Kalau kini ada 10 lagu serta empat lagu yang berbeda untuk muatan kaset dan CD, bukan berarti lagu yang belum terpilih selalu bermakna buruk. Pongki mecontohkan lagu “Setia” yang awet, tenar, banyak disukai publik, dan dihargai orang. Padahal, awalnya pernah disimpan di dalam laci saja.
“Kami tidak pernah mau munafik, kalau musik Jikustik tidak dimengerti orang, untuk apa (kami produksi)? Pada album keempat ini, kami telah mulai mengerti wajah industri musik. Melihat keberhasilan band-band baru, belum tentu mereka bisa di atas terus, karena suatu saat bisa anjlok (penjualannya),” dikomentari Adhit.
Pasalnya, band bisa hadir ke muka karena mereka masih punya semangat. “Profit dan ketenaran hanya mengiringi,” Pongki menambahkan.
Di sisi lain, band harus menjadi dirinya sendiri, sambil menyesuaikan diri dengan selera setiap orang yang saling berbeda. Selain itu, Jikustik mengaku terus terang sebagai pembela kaum patah hati. “Lagu-lagu kami yang terjual pastilah mellow. Bahkan lagu kami yang tidak populer tetapi dinilai positioning (belakangan hari) bisa dirilis juga,” ungkap Pongki, bangga.
“Lirik lagu bersedih-sedih sampai segitunya, cuma Jikustik yang melakukannya. Kemasan cintanya berbeda, dengan tanpa menyebut kata cinta meski bait liriknya dipenuhi dengan obralan cinta,” Icha melengkapkan.
“Kalau orang gak suka pada kami, itu wajar! Kami pasrah menerima itu, seperti saat kami dikritik tanpa bergaya panggung. Terserahlah! Tetapi kenyataannya setiap penampilan Jikustik, tetap saja banyak penonton yang ikut bernyanyi dengan lantang,” demikian Icha dan Pongki berargumen.
“Main lagu slow malah susah lho. Semacam lagu “Setia” susah banget,” singgung Pongki.
Lebih lanjut menjelaskan segala sesuatu di balik Pagi, Pongki menganggap Jikustik membawa persepsi kebiasaan orang yang ketika bangun pagi selalu menyimpan harapan. “Siang sebagai klimaks, dan malam adalah saat beristirahat,” sambung Pongki.
Secara konsep, Jikustik tetap membawa pesan umum sesuai persepsi orang banyak. “Yang penting, tuangan tema dari Jikustik bukan berlandasan drama atau opera yang harus beralur dan berakting, akan tetapi musik hiburan yang kali ini bertrilogi sesuai siklus pagi, sampai siang dan malam,” demikian, akhir keterangan suami artis/presenter Sophie Navita itu.
Pagi yang menjadi awalan baru dari trilogi kedua Jikustik, menyajikan menu singel pembuka bergaung fresh mellow bertajuk “Pulanglah Padanya”. Lumayan sedap sih sesuai tujuan Jikustik yang sekadar menghibur. Lagi pula apa salahnya bertujuan sederhana seperti Michael Learns To Rock?! (SH/john js)
|
|