
RADJA kini sudah layak disandingkan dengan band-band pop papan atas di Indonesia. Bukan melulu persoalan kualitas memang, tapi karena RADJA kini punya penggemar yang bisa dibilang, membludak. Hal lainnya, RADJA kini termasuk band yang cukup produktif tur konser dan merilis album.
Album terbarunya diberi titel ‘UNTUK SEMUA’ [2007]. Album ini merupakan album ke-6 sekaligus menandai enam tahun band yang diawaki Moldy [gitar], Ian Kasela [vokal], Indra [bass] dan Seno [drum]. Secara musikalitas, ritme dan pembagian tugas dalam alur musikal, lebih rapi. Moldy, tak selalu mengumbar gaya yang makin lama makin menggelikan dan tak pernah berubah itu. Dalam konser-konsernya, RADJA makin pinter mengatur bloking antar personil.
Album terbarunya ini, sebenarnya tak bisa dibilang album orisinil juga. Kebiasaan “mengadaptasi” intro, koda atau verse dari band-band luar, masih dipakai oleh band ini. Sengaja atau tidak, rasanya sudah tidak penting lagi. Karena karya mereka toh disukai dan diterima.
Singe pertamanya ‘Patah Hati’ menjelaskan pernyataan di atas. Intronya mengingatkan penulis pada intro beken ‘Black or White’ milik Michael Jackson. Diluar urusan ‘terinspirasi’ atau memang mengambil utuh, lagu ini simpel dan ear catchy dari pertama kali mendengarnya. Sebenarnya secara musikalitas, lagu ini tidak mengalami peningkatan skill atau kecerdasan lirik, tapi cepat nancep di kuping. Liriknya justru sedikit nakal, meski belum ‘kurang ajar’ aja.
Lagu lain yang cukup menggelitik adalah track pertama berjudul ‘Bintang’. Mengapa? Karena lagu ini punya beat yang tidak biasanya buat RADJA. Sepintas memang seperti musik ‘ajep-ajep’ meski lama-lama, malah terdengar seperti disko-tarling yang dimodernisasi. Tapi keinginan berbeda, sempat terpercik di intro lagu ini. Sayangnya, masuk ke reffrain, balik lagi ke denah melayu yang sudah karatan dan sudah hilang rupanya.
RADJA juga mulai keteter membuat lagu yang tidak “mirip-mirip” dengan album sebelumnya. Track kedua, ‘Permaisuri’ terdengar sangat mirip dengan dengan salah satu lagu di album sebelum-sebelumnya. Lagu apa ya?
Kelebihan band ini adalah konsistensi suara Ian Kasela. Diakui atau tidak, Ian berhasil “menoktahkan” dirinya sebagai ikon dan trade mark RADJA. Karakter vokalnya, terbukti definitif dan bisa jadi ciri. Kelebihan lain, dalam setiap live show-nya, Ian punya stamina yang tergolong bagus dibanding penyanyi band-band lain. Meski kudu nyanyi lebih dari 5 lagu, suaranya masih konstan. Biasanya, banyak vokalis yang napasnya langsung ngos-ngosan masuk lagu ketiga.
Album ini seperti biasa, tak terlalu istimewa. kalau dibilang progres, terlalu lambat untuk band sekelas RADJA. Atau mereka justru merasa aman di posisi sekarang? Kalau itu pilihan mereka, percayalah, RADJA bakal stagnan di album ini.